Hai guys, aku mau mengulas film yang masih tayang di bioskop dan lisensinya sudah terbeli di 86 negara nih, judulnya Ghost in the Cell (2026). Sutradara dan penulis naskahnya adalah Joko Anwar. Sementara pemerannya banyak bahkan kameonya terkenal, ada Abimana Aryasatya, Aming, Yoga Pratama, Arswendy Swara, Lukman Sardi, Dimas Danang, Mike Lucock, Morgan Oey, Endy Arfian, Kiki Narendra, Bront Palarae, Tora Sudiro, Rio Dewanto dan Agus Kuncoro. Film Ghost in the Cell (2026) bercerita tentang hantu yang membunuh para penghuni lapas beraura negatif setelah kedatangan napi baru yang pernah menangani kasus pertambangan nikel di Kalimantan.
Sinopsis dan Review Film Ghost in the Cell (2026): Mencari Tahu Tujuan Hantu Membunuh Para Napi yang Beraura Negatif
Film Ghost in the Cell (2026) bermula dengan kehidupan harian napi di lapas Labuhan Angsana. Mulai dari penindasan dari petugas lapasnya sendiri, sesama napi bahkan menjadi sarang kriminalitas baru. Ada transaksi narkoba, pembunuhan hingga perbedaan perlakuan terhadap para napi berduit. Salah satunya ada mafia bernama Rendra, dengan dua anak buahnya yang menakutkan, Tokek dan Bimo. Tokek ini selain membunuh napi, bicaranya juga mesum. Kalau Bimo suka bikin keributan dan bertengkar dengan sesama napi. Ada kubu lain yang salah satu anggota dominannya bernama Anggoro. Napi lain yang lemah dan tidak ada perlindungan (tak ada kubu) sering meminta pertolongan kepadanya.
Suatu pagi teman satu sel Anggoro, Six merasa sakit kepala hebat hingga tidak ikut semua napi berbaris di tengah ruangan. Kepala sipir, Jefri masuk ke selnya dan memarahi hingga memukul Six dengan ikat pinggang berkepala besar. Anggoro berteriak dari luar dan membuat Jefri ikut memarahinya. Buntutnya, Anggoro dimasukkan ke dalam sel isolasi. Jefri dengan tegas memerintahkan para napi untuk mengikuti ibadah, walau ateis sekalipun seperti Six. Napi yang ada masalah dengan kelompok Rendra menjadi korban penusukan secara brutal oleh Tokek. Padahal dia sempat mau minta pertolongan Anggoro 🙁

Hantu Pembunuh yang Muncul Setelah Kedatangan Napi Baru di Penjara
Penjara kedatangan para napi baru, salah satunya mantan jurnalis media yang hampir bangkrut, Dimas. Dia sedang membuat berita tentang penambangan nikel di Kalimantan. Bosnya terbunuh secara tragis dalam kondisi marah-marah setelah menerima telepon dari istrinya. Mayatnya tergantung aneh di lampu ruangan dengan kondisi yang tercabik-cabik. Yang terakhir bertemu boslah yang tertuduh yaitu si mantan jurnalis itu. Sipir menyuruh Irfan menjelaskan penjara tersebut kepadanya. Ada bermacam-macam kubu ternyata. Ada yang dari kalangan seleb, gembong mafia, teroris yang mengatasnamakan agama dan bangunan tersendiri untuk para koruptor atau politikus. Lalu ada gengnya Rendra, yang Dimas sangka dikepalai oleh si Bimo hahaha. Irfan yang mengetahui Dimas ternyata satu sel dengan Tokek, langsung menceritakan pada teman-teman kelompoknya.
Kepala penjara, Sapto memerintahkan Jefri untuk mengeksekusi si mantan jurnalis karena suruhan seseorang. Karena itu Jefri meminta bantuan Bimo dan Tokek. Kebetulan Tokek sedang mabuk berat, sehingga malam itu rencana mereka gagal. Apalagi Anggoro yang takut jika Tokek akan menghabisi Dimas, membuat keributan seolah mau mengusir tikus hahaha. Napi yang satu sel dengan Tokek memang sering tamat riwayatnya, apalagi lelaki botak bertato itu memang sadis dan mesum. Paginya, Tokek mengincar Dimas yang sedang mandi bersama para napi. Untunglah Anggoro menolong mengambilkan sabun, sehingga Dimas bisa berpindah ke tengah-tengah napi lain. Tokek yang sangat kesal menyendiri di toilet, lalu entah darimana ada sosok yang mirip dia namun berwajah lubang-lubang. Sosok itu menghabisi dan membuatnya bagai instalasi seni, lengkap dengan kepala shower!

Six Dapat Melihat Aura, Namun Hanya Dimas yang Tak Dapat Dilihatnya?
Six yang pagi itu secara ajaib hilang sakit kepalanya, melihat sosok Tokek yang masuk ke dalam selnya. Ketika pergi melihatnya, hanya ada Dimas di sel itu. Teriakan menggema dari arah toilet, Tokek berada dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Six sampai takjub karena semula dia hanya membual bisa melihat hantu dan teman kelompoknya saja yang tahu selama ini dia berbohong. Penjara gempar, Jefri sampai mematikan listrik dan tak memberi mereka makan sebelum ada yang mengaku telah membunuh Tokek.
Sebelumnya Six melihat warna merah di sekitar Tokek, begitu pula pada Anton, salah satu napi yang bertugas menyajikan makanan. Ternyata korban berikutnya si Anton yang kecewa kepada istrinya. Anggoro bersama teman kelompoknya menginterogasi Dimas karena ucapan Six yang sekarang telah melihat aura dari para napi. Hanya mantan jurnalis itu yang tak tampak warna auranya. Bahkan sosok Tokek dan Anton setelah terbunuh perginya ke arah lelaki muda itu. Mereka jadi mengaitkan kematian bosnya dengan para napi yang mirip. Sepertinya ada ‘penunggu’ Kalimantan yang menempelinya! Napi lain mencuri dengar pembicaraan mereka dan membuat rumor yang menyebar di penjara tentang Six yang bisa melihat aura, serta ada sosok hantu pemburu aura paling negatif.
Menemukan Target Sebenarnya Si Hantu Pemburu Aura Negatif
Rumor tersebut sampai di telinga Jefri dan Sapto. Kegelisahan timbul karena Sapto takut napi VIP bisa ikut kena. Jadilah dia membujuk salah satu napi koruptor, Prakasa Kitabuming untuk pulang sementara ke rumah. Si Prakasa ini dulunya mantan aktivis yang suka mendemo kebijakan pemerintah, namun sekarang malah berbalik menjadi pelaku kejahatan. Latar belakang Sapto juga sama karena itulah mereka cocok hahaha. Anggoro dkk akhirnya mulai mempelajari untuk menurunkan aura negatif, apalagi jika warnanya merah atas bantuan Wildan yang bisa mengetahui makna warna aura, Pendi yang merupakan mantan dosen dan bijaksana serta Irfan yang adalah mantan penipu di telepon. Mereka sampai berniat mau pergi ngaji, tapi karena penuh, akhirnya mereka mencari alternatif lain yaitu menari! Mentor mereka adalah Novilham yang sangat lentur dan sering memutar kaset di radio tape.
Selanjutnya ada napi lagi yang tak terduga terbunuh padahal dia adalah orang yang sangat tenang. Warna auranya juga beda, namun keruh. Hal ini menimbulkan kemarahan Jefri di depan para napi, apalagi ucapan Anggoro yang terbantu Pendi, mempermalukannya dengan hal tentang psikologi. Jefri tercabik-cabik dan membuat semua napi gempar. Mereka lari ke sel masing-masing, mengerjakan hal-hal yang membuat aura menjadi positif. Anggoro teringat akan perkataan anaknya mengenai pembentukan tanah liat. Seketika itu dia mendapatkan ilham, bahwa si hantu sepertinya cerdas karena suka membentuk para korbannya. Hantu tersebut pastilah cerdas dan memiliki tujuan. Anggoro kemudian mengajak napi lain bekerjasama, termasuk Bimo untuk menemukan target sebenarnya dari si hantu. Akankah mereka berhasil melakukannya karena masih ada Sapto dan para sipir? Apakah si hantu benar-benar punya tujuan dan bisa pergi dari kehidupan mereka? Bagaimana nasib si mantan jurnalis dan para napi selanjutnya?

Film Ghost in the Cell adalah Karya Paling Berani dari Joko Anwar!
Aku pernah menonton film Joko Anwar sebelumnya, mulai dari Perempuan Tanah Jahanam, Gundala dan terakhir Pengepungan di Bukit Duri. Tapi film Ghost in the Cell (2026) ini aku rasa yang paling bagus! Selain Janji Joni tentunya. Karya ini yang paling berani bersuara dari genre usungannya yang berbau politik dan horor. Selain itu, film ini sangat berhasil di genre komedinya! Beberapa kali aku ngakak terbahak-bahak, begitu pun para penonton di dalam studio. Baik dari dialog yang terlontar dari para pemain maupun tingkah mereka, tidak perlu ada komedian, mereka semua bisa kocak apa adanya.
Bahkan pentolan Extravaganza, Aming dan Tora mampu memerankan karakter mereka dengan baik tanpa melucu. Apalagi Aming, keren sekali aktingnya di sini, dari ucapan dan gesturnya beneran bikin takut dan meresahkan. Akting para pemain semuanya bagus di sini, bahkan pemain pendukung sekalipun. Bayangkan ada 412 pemain! Apalagi di film ini semuanya laki-laki. Hanya di bagian suara ada perempuannya, tapi tetap saja tidak menampilkan wajah.
Adegan Komedinya Banyak dan Gokil
Adegan kocak juga sangat terasa di kamar mandi, ketika musik asyik terputar saat kamera menyorot para napi bertubuh bagus dari belakang. Ketika ada yang buncit lewat, kamera seolah tidak mau menyorot dan kembali ke para napi bertubuh bagus. Musiknya juga berubah. Adegan sabun si Dimas juga bikin terbahak sekaligus kasihan sih hahaha. Ada pula ketika teman-teman sel Anggoro berembuk, sempak yang jadi latar belakang mereka bahkan jadi bahan komedi. Atau kecanggungan para napi yang mengikuti ritme dansa, mana lagi koreografinya ada kalimat ‘nyeri haid’. Nama Six saja lucu karena dia adalah anak keenam hahaha.
Selain komedi, horornya apalagi di babak awal benar-benar terasa. Tubuh yang terpotong dan tercabik, tertusuk dengan darah pekat menunjukkan film ini amat brutal dan gore. Sepertinya judul ini yang paling sadis dari karya seorang Joko Anwar. Walau begitu, umpatan-umpatannya tidak sebanyak dan semengganggu seperti film Pengepungan di Bukit Duri. Aku suka dengan beberapa aspek psikologi yang Jefri dan Anggoro utarakan. Film ini terasa tidak kosong karena ada ilmu yang bisa terserap. Ada pula adegan aksi yang bikin bergidik, sikat toilet bisa jadi senjata, geli hahaha. Bahkan di sela-sela perkelahian, Bimo melantangkan doa dan Anggoro menari dengan canggung. Perpaduan adegan absurd itu rupanya cocok dan sangat menghibur XD
Sinematografi Mampu Menyentuh Sisi Emosional Para Tokoh, Scoring-nya Mantap
Sinematografinya bagus, khas Jokan sekali. Sangat menonjolkan sorotan emosi dari para tokoh, apalagi adegan menarinya Novilham. Atau bagaimana si Prakasa menghadapi masa lalunya. Begitu pula bentuk para korban yang sangat filosofis dan artistik, salah satunya si pejabat korup yang kepalanya seperti terinjak dan membentuk model Dewi Keadilan lengkap dengan neraca. Atau kaca-kaca yang mengelilingi si penari, indah namun mematikan. Walau begitu ada sedikit pada bagian editing, perpindahan adegannya yang agak kurang mulus. Untuk scoring-nya juga menarik sih. Dari sisi audio, ada banyak suara tambahan yang makin menambah sisi emosional dan suramnya kehidupan penjara. Lagu-lagu yang dimainkan hampir semua berlirik bahasa Inggris, ada pula yang bermuatan lokal seperti Cicak-Cicak di Dinding yang muncul di trailer. Untuk percakapan para pemain, ada beberapa yang kurang terdengar dan pengucapannya cepat.

Plot Cerita Film Ghost in the Cell Rapi, Premisnya Menarik
Mungkin karena film Ghost in the Cell ini memiliki 6 tahun pengembangan cerita, sehingga menurutku penggarapannya sudah matang. Banyak rasa alias nano-nano dari film ini : komedi ada, aksi ada, cerita ada. Pesan moralnya juga sangat banyak. Joko tidak ragu melemparkan kritik sosial mengenai pemerintahan negeri Konoha dengan blak-blakan. Bahkan menyebut namanya pula! Mulai dari masalah korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, sikap orang jujur di tengah-tengah keserakahan, bahkan oknum-oknum agamis. Penjara bagai sistem negara kecil yang kesulitan melindungi penghuninya dan bahkan menciptakan kriminalitas baru. Pesannya terlontar banyak di dialog, agak berlebihan sih tapi menurutku tidak apa-apa. Soalnya rakyat yang lain tidak suka bersuara dan lebih memilih diam. Ada juga yang tidak mengerti, sehingga pengulangan kata-kata mengenai kondisi politik saat ini memanglah perlu 🙂
Plotnya tersusun rapi, walau di beberapa adegan ketika membicarakan hal serius, terasa seperti mendengar isi jurnal ilmiah. Selain itu ada beberapa hal yang membuatku mikir, walau sebenarnya tidak ada penjelasannya juga tak apa-apa. Yaitu alasan Dimas sempat masuk penjara, lalu setelah insiden-insiden barulah dia bebas karena ada bukti CCTV dia tak berada di ruangan bos pada waktu kejadian. Apa untuk dihabisi? Lalu banyaknya pembunuhan yang terjadi di lapas, tidak ada tersangka manusia kan, apa bisa di mata hukum seperti itu?
Makna yang Bisa Kamu Ambil dari Film Ghost in the Cell (2026)
Film ini punya banyak momen yang memorable, mulai dari adegan mandi, cara eksekusi, latihan nari sampai rentetan telepon palsu. Teringat film Perempuan Tanah Jahanam yang adegan pemeran utama wanitanya berlari keluar dari pos gerbang tol, sampai sekarang masih berkesan dan membuat bergidik. Dari film Ghost in the Cell (2026) mengajarkan kita agar:
- Tetap membantu orang lain walau ada banyak risikonya (sulit dapat remisi sampai dapat perlakuan kasar seperti Anggoro),
- Tetaplah hidup karena setiap manusia lahir pasti ada tujuannya,
- Biasakan punya mindset ‘membentuk’, misalnya tanah liat, tetapkan rencana dan tujuan setiap melakukan sesuatu,
- Bersikap tenang dan positif dalam menghadapi masalah karena biasanya ada jalan keluar yang akan bisa kita lihat,
- Konsisten dan berprinsip hingga tua,
- Tidak menyalahkan sistem hanya karena mau ikut-ikutan berbuat hal jahat.
Buat kamu yang suka genre aksi, terselip gore artistik namun banyak komedinya lengkap dengan kritik isu sosial politik yang pedas, film Ghost in the Cell (2026) akan cocok untuk kamu tonton. Tapi kalau kamu mengidap Trypophobia, lebih baik mempertimbangkan menonton ini. Jika kamu suka ulasannya dan merasa artikel ini bermanfaat, boleh minta tolong share link atau komen di bawah ya. Sampai ketemu di review berikut 🙂
Info Seputar Film Ghost in the Cell (2026)
Judul : Ghost in the Cell (2026);
Tgl Rilis : 16 April 2026;
PH : Come and See Pictures, Rapi Films, Barunson E&A;
Genre/Rate : Horror, Comedy /D 17+;
Negara Asal : Indonesia;
Waktu : 106 Menit;
Pemain : Abimana Aryasatya sebagai Anggoro, Aming Sugandhi sebagai Tokek, Yoga Pratama sebagai Six, Arswendy Bening Swara sebagai Prakasa Kitabuming, Lukman Sardi sebagai Pendi, Dimas Danang Suryonegoro sebagai Irfan, Mike Lucock sebagai Wildan, Morgan Oey sebagai Bimo, Endy Arfian sebagai Dimas, Kiki Narendra sebagai Sapto, Bront Palarae sebagai Jefri, Haydar Salishz sebagai Donald, Yuhang Ho sebagai Rendra, Magistus Miftah sebagai Novilham, Tora Sudiro sebagai Anton, Almanzo Konoralma sebagai Buki, Ical Tanjung sebagai Bambang, Faiz Vishal sebagai Vijay, Farrell Rafisqy sebagai Didi, Dewa Dayana sebagai Prakasa muda, Rio Dewanto sebagai bos Dimas.
Ada quote yang ingin kubagi di sini :
“Kita hidup karena ada tujuan. Jadi kita tidak boleh mati dan keluar dari penjara ini. Di luar kita bisa temukan apa yang menjadi tujuan kita masing-masing.” ~ Pendi
Rating versiku : 5/5