Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara di Manado Dekat Pusat Kota
Halo saudara sebangsa dan setanah air! Kali ini aku mau memberi ulasan ketika mengunjungi objek wisata budaya terdekat di sekitar Manado. Inilah museum di Manado, namanya Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara. Terakhir aku pergi sudah lama sekali ketika masih bersekolah di samping museum ini dan akhirnya kembali lagi di tahun 2026 karena viral dalam medsos TikTok dan IG. Renovasi besar-besaran dari pertengahan tahun 2025 lalu membuahkan hasil yang maksimal. Selain edukatif, tempat dan teknologi yang dipakainya terasa lebih modern. Isi museumnya bagus banget, hampir tiap pojok begitu estetik.
Ada beragam pilihan transportasi umum menuju lokasinya. Untuk mencapai museum di Manado ini, kamu bisa menaiki mikrolet biru trayek Teling dari area Pasar 45 (Siloam, Golden), nantinya berhenti di bundaran depan TK/SD Eben Haezar, atau depannya kantor BULOG. Dari situ kamu bisa jalan kaki sekitar beberapa meter, tidak terlalu jauh. Atau dari Pasar 45 sebelum naik trayek Paal 2, kamu bisa tanyakan ke sopirnya, apa bisa lewat Komo Dalam. Nanti bisa langsung berhenti tepat di depan museum. Kebetulan rumahku tidak terlalu jauh dari museum jadi bisa jalan kaki bareng keluarga kesana hehehe. Ajak semua anggota keluargamu, terlebih anak-anak ya karena mereka pasti akan suka dan bersemangat keliling di dalamnya.

Titip Barang Sebelum Masuk Museum di Manado yang Berjumlah 4 Lantai
Museum Negeri Propinsi Sulawesi Utara berlokasi di jalan W.R. Supratman No.72, Lawangirung, kecamatan Wenang, kota Manado. Museum di Manado ini berjumlah 4 lantai, dengan gerbang tinggi bertuliskan namanya dengan miniatur ikan coelacanth. Kita bisa masuk dari sisi kiri yang ada pos penjaganya. Area parkiran sangat luas, bangunan museumnya terlihat luas dan gagah dengan warna coklat-putih yang menenangkan. Dari dulu sudah ada 2 meriam kuno dengan patung di masing-masing sisinya, tengahnya ada tulisan Museum Negeri. Lalu ada beberapa tangga dengan 4 patung pendekar Sulut yang menyambut di bagian bak berair, sebelum menjangkau gedung berpilar yang tinggi.

Namun sebelum masuk gedung, kita harus mendaftarkan diri di bangunan kecil pada bagian samping kiri museum. Ada petugas yang berjaga dan meminta kita menuliskan nama, alamat dan nomor HP pada buku yang tersedia. Setelahnya kita harus menitipkan barang-barang seperti tas, tumblr dll dalam loker beserta nomor. Jadi kertas nomornya harus kita simpan dengan baik ya. Hanya handphone atau uang yang bisa kita bawa ke dalam.

Museum Sulut Buka Setiap Hari dan Masih Gratis Loh!
Museum di Manado ini buka setiap hari loh! Hari Senin sampai Jumat dari jam 9 pagi sampai 4 sore, hari Sabtu jam 10 pagi sampai 3 sore, sementara hari Minggu hanya 2 jam dari 1 siang sampai 3 sore. Tutup di hari libur Nasional atau tanggal merah dalam kalender. Istirahat makan dari jam 12 sampai 1 siang tutup sementara. Waktu terbaik untuk menghindari keramaian pengunjung di hari Senin-Rabu, kalau bisa datang pagi dari jam 9. Rabu kemarin aku datangnya jam 10 masih sedikit pengunjung, ada pula rombongan anak sekolah tapi tidak terlalu banyak, jadi masih lowong area buat foto-foto. Gedung tersebut bertuliskan MUSEUM dengan cat putih berukuran besar, ada patung burung hantu alias manguni di atasnya yang merupakan ikon hewan endemik asal Sulut.
Untuk saat ini masih Gratis, tapi nantinya akan berbayar bahkan masuk ke ruang imersifnya juga bayar hehehe. Masih perkiraan 20 ribu untuk tiketnya. Sayang pas aku datang, operator ruang imersifnya tidak ada jadi ruangannya ditutup. Imersif itu membuat kita seolah masuk ke dalam visual cerita yang ada, dengan teknologi audio-visual dan layar proyeksi 360 derajat. Beberapa content creator di awal pembukaan museum sempat merasakan fasilitas ini.
Ketika memasuki museum, ada gambar ukiran besar di bagian tengah taman kecil (berkaitan dengan kegiatan para leluhur termasuk membangun waruga) dan petugas berseragam yang menyambut kita. Beliau memberikan penjelasan mengenai beberapa ruangan yang tidak bisa didokumentasikan baik berupa foto atau video (keramik, tempo dulu, warisan logam dan senjata kolonel). Mungkin karena barang-barangnya yang bernilai tinggi dan langka. Selain itu tidak boleh menyentuh barang-barang di dalam karena kalau semuanya seperti itu, bisa rusak dan kotor kan hehehe. Di tiap ruangan ada CCTV dan beberapa tempat ada petugasnya, jadi kalau melanggar bisa disuruh keluar. Petugasnya juga baik dan sangat ramah, sampai menawarkan untuk memotret kita loh.

Pengenalan Museum dan Masa Prasejarah
Kita dipersilakan untuk mengikuti alur yang ada dari tanda panah berwarna hijau di lantai hitamnya. Di atas ada yang lantainya berwarna putih, mungkin peninggalan dulu yang seperti itu. Pada bagian awal ini, ada tulisan hitam di latar putih mengenai Sejarah Museum Negeri Sulawesi Utara yang berdiri sejak 9 Januari 1991. Menariknya, tulisan ada dalam bahasa Indonesia dan Inggris sehingga bisa memudahkan turis mancanegara untuk memahami tiap penjelasannya. Di bagian bawah tulisan tersebut ada denah ruang apa saja dalam museum. Pada bagian kanan ada peta dan cakupan kabupaten/kota yang bernaung dalam provinsi Sulawesi Utara. Mulai dari Manado, Bitung, Kotamobagu, Tomohon, Bolaangmongondow (bagian Selatan, Timur, Utara), Sangihe, Sitaro, Talaud, Minahasa (bagian Selatan, Tenggara, Utara). Dekat TV ada gambar besar dengan 3 pasangan yang merepresentasikan 3 wilayah budaya yaitu Bolaang Mongondow Raya, Nusa Utara dan Minahasa Raya. Beberapa tempat duduk juga disediakan di sana.

Ada pilar estetik yang membatasi ke area lorong, dengan ruangan bertuliskan Ruang Prasejarah. Mulainya masa ini sejak sekitar 30 ribu tahun lalu, periode mesolitik di mana masyarakatnya masih tinggal dalam gua. Ada patung pasangan yang merepresentasikan hidup berburu dan belum mengenal aksara, replika fosil stegodon alias gading dan geraham gajah purba, beliung alat batu dan belati sebagai pemotong serta tempayan dari tanah liat. Ada papan nama per nomor beserta penjelasan singkatnya. Di tiap barang juga ada nama dan kode QR yang bisa kita scan, merujuk ke situsnya museum dengan penjelasan yang lebih lengkap. Seru kan?

Ikan Purba dan Budaya Megalitik
Ruangan berikut bertuliskan Ikan Coelacanth. Ikan purba yang sempat dianggap punah ini kemudian mendadak viral tahun 2007 lalu ditangkap nelayan dari pantai Malalayang. Ini sudah ketiga kalinya ditemukan dari perairan Manado. Spesimennya dapat terlihat jelas dari dalam akuarium di tengah ruangan. Dinding ruangan ini cantik dengan gambar pemandangan bawah laut berterumbu karang. Pada bagian kiri dan kanannya ada beberapa contoh varian keong dan siput laut. Spot ini jadi tempat favorit pengunjung untuk berfoto.

Menuju ruang lain ada lorong berisi arca-arca di lantai dan jenis bebatuan yang terpampang di dinding bertutup kaca. Pencahayaannya yang remang dan estetik membuat lorong ini juga menjadi spot favorit foto para pengunjung. Berbagai arca berbentuk manusia dan binatang, juga koleksi bebatuan sekitar 20 dengan papan nama lengkap penjelasan pula. Setelah itu ada Watu Pinawetengan yang replika batu besarnya berada di luar museum, ada pintu keluar untuk melihatnya. Juga di area itu terdapat waruga peninggalan budaya megalitik yang merupakan kubur peti batu dan balongsong sebagai tempat penguburan sekunder. Di dekat situ ada Ruang Budaya Megalitik dengan 2 ornamen terpampang bertutupkan kaca, yang salah satunya berbentuk waruga kecil.

Agama dan Kepercayaan Serta Ruang Budaya
Berikutnya ada Ruang Agama dan Kepercayaan dengan 3 ornamen penghayat kepercayaan berupa pahi, kure dan sesembungan. Ada pula koleksi dari agama Katolik dan Kristen seperti batu tulis (slate), alkitab dan mimbar milik pendeta serta alat perjamuan. Selain itu ada koleksi dari agama Islam yaitu Alquran, sorban, tasbih, rencong dan rompi ajimat. Di sebelahnya ada koleksi dari agama Buddha, Hindu dan Konghuchu. Ada arca Buddha, pedupaan, kalender penanggalan Bali dan koleksi Kitab Suci Konghuchu.

Lalu kita memasuki Ruang Budaya yang memiliki beragam artefak teknologi tradisional masyarakat, dengan permulaan adalah berbagai alat penangkap ikan. Ada lorong dengan berbagai kain bentenan cantik yang menjadi salah satu spot foto favorit. Ada set perlengkapan tari kabasaran dari baju hingga peralatannya. Beberapa artefak terpisah sesuai wilayahnya yang berbatas dengan kaca. Selain itu ada alat tenun tradisional besar di sudut dekat tangga.

Ragam Teknologi dan Beberapa Ruangan yang Tak Boleh Kamu Dokumentasikan
Di lantai atasnya ada Ruang Wastra dengan menampilkan beberapa kain tradisional dalam kaca, juga 3 pasang boneka dengan pakaian adat yang merepresentasikan 3 wilayah budaya Sulut. Di sebelahnya ada beberapa miniatur rumah adat dan peralatan pembuatan seperti gergaji serta kentar. Ada pula baju suku Kulawi loh. Berikutnya ada Ruang Ragam Teknologi dengan berbagai miniatur perahu, bahkan ada yang versi lumayan besar yang terletak terpisah. Di sisi seberangnya ada model replika bajak sapi, delman dengan tapak dan penutup kepala kuda. Setelahnya ada lorong bertuliskan Ruang Rempah dan Hasil Bumi, dengan display panjang tertutup kaca bening. Ada 28 jenisnya, dengan 2 papan nama. Dua di antaranya ada botol kecil berisi minuman tradisional khas Sulut yakni saguer dan cap tikus loh.

Beberapa ruangan setelahnya yang tidak bisa didokumentasikan, ada berbagai keramik porselen Tiongkok, senjata kolonial yang banyaknya berbahan kuningan dari berbagai pedang, keris, penutup kepala khas Romawi hingga meriam. Ada juga lemari dan meja rias peninggalan kerajaan, serta meja bulat dan kursi yang menjadi tempat diskusi para pejuang peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 silam di Manado. Lalu menyusuri lorong ada beberapa patung Pahlawan Nasional asal Sulut dengan cat kuning kecokelatan. Setelahnya ada papan-papan putih hitam berisi foto dan biodata para pahlawan Sulawesi Utara.

Ruang Imersif dan Musik yang Interaktif Serta Modern Menjadi Nilai Plus Museum Manado
Kemudian kita turun ada pintu masuk menuju Ruang Imersif dengan banner petunjuk, salah satunya menginstruksikan agar melepas alas kaki seperti sandal atau sepatu. Karena terkunci, aku terus berjalan menyusuri lorong panjang dengan gambar ilustrasi kuliner Sulut di dinding kiri. Layar-layar tampilan LED di sisi kanan menunjukkan gambar kue tradisional beserta bahan dasarnya. Di ujung kiri ada Ruang Musik, dengan layar-layar LED berdiri yang menampilkan musisi legendaris Sulut, ada beberapa TV kecil yang terpasang di dinding dengan headphone kabel di sampingnya. Yang mencuri perhatian tentu saja lemari tinggi yang menampilkan banyak kaset, dengan cahaya temaram yang menjadi salah satu spot favorit foto. Di meja terdapat gramofon portabel bergaya koper yang mekanismenya perlu menggunakan tangan untuk memutarnya dan dapat menggerakkan piringan hitam. Setelahnya kita turun lagi dan menyusuri lorong dengan bingkai-bingkai foto plus biodata para mantan gubernur Sulut dari tahun ke tahun, keluar ke meja piket.

Kesimpulan dan Saran Mengenai Museum di Manado
Secara keseluruhan, museumnya melebihi ekspektasi dan memang bagus daripada sebelumnya. Hanya saja aku memiliki beberapa saran :
- Tolong koleksinya diperbanyak lagi. Misalnya ada ruangan mengenai flora dan fauna khas Sulut seperti ikonnya manguni, anoa, kuskus dan tarsius. Museum di Manado ini hanya menampilkan hasil laut seperti ikan purba saja. Selain itu bisa tambahkan ruangan tentang Tondano dan Tomohon, apalagi sekarang banyak wisata alamnya. Festival budaya semacam Tomohon International Flower Festival (TIFF) juga perayaan keagamaan seperti Cap Go Meh di Manado bisa juga dimasukkan ke suatu ruangan.
- Untuk bagian rempah, aku harap ada ruangan tersendiri dengan diorama cara pembuatan atau penjelasan lebih mengenai saguer dan cap tikus. Sekalian hal itu bisa jadi bahan promosi ke turis dalam maupun luar negeri.
- Ada toko kecil di area museum yang luas ini, misalnya untuk menjual aksesoris atau jajanan khas Sulut. Perpustakaan juga cocok sih. Pasti nanti bakalan lebih ramai kompleks ini.
Ayo segera ramaikan Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara di Manado ini, ajak keluarga dan para kenalanmu apalagi masuknya masih GRATIS. Sampai bertemu di ulasan tempat menarik lainnya ya! 🙂