[Review Film] 5 Centimeters Per Second Live Action (2025), Adaptasi Anime Jadul yang Lebih Menggetarkan

Halo kalian para pencinta film Jepang! Aku sangat excited karena akhirnya bisa nonton film dari negeri Sakura (versi orang kalo anime sudah beberapa kali muncul) di bioskop Manado, belum lama ini rilis yang judulnya 5 Centimeters Per Second Live Action atau Byosoku 5 senchimetoru (2025). Seperti animenya yang tayang 2007 silam, film ini mengadaptasi novel karya Makoto Shinkai (Kimi no Na wa) dengan penulis naskah yang lain- Ayako Suzuki dan disutradarai Yoshiyuki Okuyama. Untuk para pemerannya sendiri ada Hokuto Matsumura (member boyband SixTONES), Takahata Mitsuki (Wotakoi LA), Mori Nana (Kokuho) sampai artis senior Miyazaki Aoi (Heavenly Forest) loh! Film ini sudah tayang di Jepang tahun lalu, sedangkan masuk ke Indonesia baru tanggal 30 Januari 2026. Film 5 Centimeters Per Second Live Action (2025) berkisah tentang Takaki, programmer IT yang sulit move on dari sahabat masa kecilnya- Akari sehingga menjalani hidupnya dengan rasa hampa.

Sinopsis dan Review Film 5 Centimeters Per Second Live Action (2025): Mengikuti Kisah Takaki yang Sulit Berpindah Hati dan Akari yang Dapat Sorotan Lebih

Film 5 Centimeters Per Second Live Action (2025) berawal dengan seorang pegawai IT muda tahun 2009, yang hidupnya tampak berantakan bernama Tono Takaki. Sering lembur, merokok dan barang-barang di tempat tinggalnya begitu berantakan. Tono beberapa kali menulis pesan di handphone lipat-nya, namun pada akhirnya dia hapus. Sementara di sisi lain, ada pesan masuk untuknya dari rekan kerjanya- Mizuno Risa. Risa masih menyukai Tono. Sepertinya mereka pernah pacaran atau dekat, tapi Tono masih saja menjaga jarak dengannya. Pernah pergi ke tempat tinggal Risa, gadis itu sampai bertanya apa cowok itu senang bersama-sama dengan dirinya.

Tono mengambil keputusan untuk resign dari kantornya. Untunglah dia punya senior yang sering menyemangati dan memberikan rekomendasi pekerjaan baru- menjadi pegawai IT di sebuah planetarium. Jelas pekerjaan yang berhubungan dengan ruang angkasa adalah sesuatu yang menjadi passion-nya sejak kecil. Impian yang dimengerti oleh sahabat kecilnya- Shinohara Akari. Ingatannya terbang ke masa dimana dia menjadi anak pindahan SD di Tokyo pada era 1990-an.

5cm per second versi live action dan anime
5cm per second versi live action dan anime (dok. X dan yesasia)

Akari dan Tono Bersahabat Ketika SD

Hanya beda setahun kepindahannya, Akari muncul di sekolah itu sebagai anak baru. Akari yang pendiam juga tidak cocok dengan semua orang. Tono yang sebangku dengan Akari akhirnya berteman baik setelah gadis itu mengagumi ketertarikannya pada sains terlebih ruang angkasa. Akari bahkan yakin ketika dewasa nanti Tono dapat mengejar impiannya. Kedekatan mereka sampai memicu teman sekelas untuk meledek, mengira mereka telah jadian. Tono sampai membelanya dan menarik tangan Akari agar pergi dari kelas. Tempat favorit mereka di perpustakaan. Suatu hari mereka sempat ngobrol untuk masuk ke SMP yang sama. Ketika berjalan santai sepulang sekolah, mereka melihat sakura berjatuhan dan kucing lucu. Sebelum kereta lewat dan Akari berada di seberang, gadis itu berteriak menyatakan harapan agar mereka tahun depan melihat sakura bersama-sama.

Tapi di suatu malam, Akari menghubungi Tono lewat telepon boks jalanan. Dia meminta maaf karena akan melanjutkan SMP-nya di Tochigi. Dari awal baik Akari dan Tono pernah pindah-pindah sekolah karena ikut urusan kerja orangtua. Sayangnya Tono tidak berbicara banyak, hanya memaklumi karena pekerjaan orangtua. Setelahnya dia menyesal kenapa tidak mengungkapkan kekecewaan dan rasa kehilangannya pada Akari. Akhirnya Akari jadi pindah dan mereka beberapa kali berkirim surat. Ketika sudah SMP, Tono mengabarkan pada Akari bahwa dirinya akan pindah ke Kagoshima. Akari meminta mereka untuk bertemu, apalagi jarak mereka nantinya akan sangat jauh.

Akari dan Tono semasa kecil
Akari dan Tono semasa kecil (dok. cwfilms.jp)

Pertemuan Tono dan Akari untuk Terakhir Kalinya

Hari pertemuan mereka tiba. Tono sampai menulis surat untuk Akari berisi pernyataan cintanya. Namun sayang di salah satu stasiun, amplopnya terbang ketika dia mau mengambil sesuatu dari saku celana. Cuaca juga mendukung pertemuan mereka menjadi terasa rapuh. Karena hujan salju yang lebat dengan jarak yang jauh, keretanya sempat beberapa kali terhenti di beberapa stasiun. Jam 7 yang disepakati berubah menjadi jam 11 malam.

Ketika sampai, Tono sangat bersyukur melihat Akari berada di stasiun itu. Akari terlihat lega dan menangis di pelukannya. Mereka makan bersama, bekal buatan Akari yang tumbuh menjadi gadis cantik berambut panjang. Berbicara hal-hal receh hingga akhirnya mereka harus pergi karena stasiun akan tutup. Mereka berdua pergi ke pohon sakura besar, namun di situ bukan sakura melainkan salju yang berjatuhan. Di saat itu mereka terbawa suasana, berciuman dan berpelukan hangat. Mereka juga berjanji untuk bertemu di pohon yang sama pada usia dewasa mereka di 30 tahun. Pada versi anime, mereka bahkan sampai nginap dan tertidur di sebuah pondok sampai pagi hari.

Hari sudah pagi dan Tono harus pulang. Sebelum kereta berangkat, Akari tampak ragu dan ingin mengatakan sesuatu. Ternyata ada surat juga yang ia tulis tapi akhirnya tidak diberikan. Mereka hanya berdiri dengan canggung. Ketika pintu sudah tertutup, Akari meneriakkan sesuatu yang tak bisa Tono dengar. Ternyata Akari hanya meneriakkan keyakinannya bahwa Tono akan bahagia ke depannya.

Kanae Menyukai Tono Ketika SMA

Mereka masih berkirim surat hingga akhirnya masing-masing sudah berhenti melakukannya. Tono yang kini sudah kelas 3 SMA pada tahun 1997, di Tanegashima, memilih ekskul panahan. Dia satu kelas dengan seorang gadis bernama Sumida Kanae. Gadis itu sudah menyukai Tono sejak lama dan merasa ada sesuatu yang kuat terpancar dari Tono. Beberapa kali Kanae menunggu Tono di area parkiran sepeda motor dan mereka pulang bersama. Pernah sekali perjalanan mereka terhenti sementara karena ada pengangkutan alat roket. Perkataan Kanae tentang kecepatan roket membuat Tono teringat masa lalu, percakapan antara dia dan Akari tentang kecepatan bunga sakura yang jatuh ke tanah.

Kanae juga belum menjatuhkan pilihan mau masuk SMA mana. Lagipula hasratnya begitu kuat untuk menyatakan perasaan pada Tono. Namun akhirnya dia memanfaatkan energi suka yang besar itu untuk latihan berselancar, ditemani kakak perempuannya- Midori. Kakaknya itu juga termasuk staf di ekskul panahannya si Tono. Akhirnya Kanae berhasil dalam latihannya sehingga memiliki keberanian untuk menyatakan cinta pada Tono. Kebetulan motornya mogok, Kanae mengajak Tono untuk pergi karaoke berdua. Bahkan ketika selesai dan Tono mau pulang jalan kaki bareng Kanae, gadis itu kesulitan untuk menyatakan suka. Alih-alih dia menangis, Tono sempat berbalik karena peduli sebagai seorang teman. Di saat itu ada peluncuran roket dan membuat pandangan mereka tertuju ke arah langit. Tangis Kanae sampai terhenti. Saat itu Kanae sadar bahwa Tono tak pernah melihatnya. Cowok itu selalu memandang jauh ke depannya. Entah pada siapa.

Kanae menyukai Tono
Kanae menyukai Tono (dok. trailer Youtube)

Pertemuan Tono dan Akari untuk Terakhir Kalinya

Tono akhirnya bekerja di Tokyo, kemudian pindah ke planetarium menjadi programmer. Suatu hari Tono menjadi narator acara di planetariumnya yang terbuka untuk umum. Dia sempat mendengar perkataan seorang anak kecil setelah acara, menyatakan ada seseorang yang bercerita padanya tentang kecepatan bunga sakura yang jatuh yaitu 5 cm per detik. Kenangan masa lalu makin menyeruak. Dalam perjalanan pulang dengan kereta, Tono teringat sesuatu. Kebetulan di hari itu yang dulu diperkirakan akan kiamat, mereka berjanji untuk melihat pohon sakura bersama. Sampai di tempat kenangan mereka, walau sudah menunggu beberapa lama, Akari tak kunjung muncul. Nyesek banget!

Tono datang ke tempat perjanjian ketika dewasa
Tono datang ke tempat perjanjian ketika dewasa (dok. collider)

Di hari lain, Tono mencurahkan kegelisahan hati dan janji tak ditepati kepada seniornya di planetarium. Ternyata di acara lalu, ada gadis di samping si bapak yang punya cerita yang sama dengan Tono. Namun gadis itu bilang, dia tak akan menepati janji untuk melihat sakura bersama. Dia berharap si lelaki tidak pergi ke sana. Kenangan mereka akan tetap ada di dalam dan menjadi bagian dari Akari. Di saat itu Tono menangis tersedu-sedu, namun anehnya terasa melegakan.

Akhir Penantian Tono dan Akari yang Berpindah Hati

Tono kemudian menemui Risa dan menyatakan perasaannya selama ini. Untunglah gadis itu menyatakan ‘sudah telat’ dan pergi hahaha. Pulang dari Risa, di palang kereta tempat perjanjiannya dan Akari di masa kecil untuk melihat bunga sakura bersama, Tono merasa berpapasan dengan gadis yang ia rindukan. Tono berbalik, namun kereta lewat menghalangi pandangannya. Setelah kereta itu pergi, tak ada orang di seberangnya.

Gadis yang mengobrol dengan bapak rekan kerjanya Tono itu beneran Akari! Dia juga sudah kerja sebagai staf toko buku selama beberapa tahun di Tokyo, bahkan rekannya kakak dari Kanae. Si kakak juga sempat ketemu Tono di jalan. Tapi dengan Akari, dia sudah tak pernah bertemu lagi. Akari ternyata masih mengingat jelas kenangannya dengan Tono. Apalagi ketika ada berita nasib roket yang telah diluncurkan beberapa tahun berlalu. Dia menemukan kotak berisi barang-barang semasa kecil, termasuk buku poket luar angkasa yang diberikan Tono sebagai hadiah ulangtahunnya. Ada pula surat yang tak sempat dia berikan waktu di stasiun dulu. Ketika Akari datang di planetarium, tatapannya mengarah pada nama Tono di selebarannya sambil tersenyum. Mungkin dia merasa senang karena Tono menggapai impiannya dulu, setidaknya bekerja berhubungan dengan luar angkasa. Tampaknya Tono baik-baik saja tanpa dirinya. Akari lebih dulu move on karena sudah menikah dan akan pindah ke Australia. END.

takaki dan akari ketika dewasa dari film 5cm per second live action
Tono dan Akari ketika dewasa (dok. trailer Youtube)

Film 5 Centimeters Per Second Live Action (2025), Melengkapi Versi Animenya dengan Hasil yang Lebih Memuaskan

Film 5 Centimeters Per Second Live Action (2025) setia dengan cerita di dalam animenya. Malah ada tambahan-tambahan adegan yang melengkapi rasa kosong dari animenya yang memiliki 3 babak cerita. Dengan plot yang urutannya tidak sama dengan anime, versi film terasa lebih runtun dan membuat aku bisa lebih paham akan gejolak perasaan dua karakter utama. Jika ending anime seperti tidak memberikan closure jelas, di versi ini kamu akan bernapas lega.

Dari film ini, mengajarkan bahwa cinta butuh perjuangan dan harus terus dipelihara. Dari surat-menyurat yang terhenti, mereka menjadi asing satu sama lain dan akhirnya tak tahu kabar masing-masing berada di mana. Sebelumnya mereka berciuman dan tak mengkonfirmasi perasaan masing-masing, surat yang mereka siapkan juga tidak diberikan. Mereka sama-sama tidak memperjuangkan perasaan mereka, lagipula LDR terasa cukup sulit. Apalagi ketika dewasa, walau mereka berada dalam 1 kota, tak akan pernah ketemu. Padahal nyesek sih, mereka pernah berada di satu lokasi, bahkan temannya Akari juga kenal dengan Tono dan mau mempertemukan mereka. Namun namanya tidak jodoh, mereka tak pernah bertemu. Sesuai dengan yang didengar Akari dari obrolan para bocah di jalanan, bahwa kemungkinan orang bisa bertemu secara kebetulan adalah 0,0003%. Hampir nihil kan!

Tokoh lain di film
Tokoh lain di film (dok. crunchyroll)

Akari Realistis, Tono Masih Belum Selesai dengan Masa Lalu

Filosofi kecepatan jatuhnya bunga sakura juga cocok dengan makna hubungan Tono dan Akari. Lamban seperti hubungan mereka yang perlahan membusuk alias tak tahu kabar masing-masing. Kanae di versi ini juga terasa kurang nyeseknya, masih lebih bagus yang versi anime sih. Tapi aku suka banget bagaimana versi ini menggambarkan hubungan Tono dan Akari yang terasa sangat realistis. Latar belakang dan kebersamaan mereka sejak kecil tergambar dengan baik, bahkan Akari juga banyak tersorot di sini.

Akari tipe gadis yang realistis. Sudah lama tak bertemu, dia memilih menata hidupnya tanpa melupakan kenangannya dengan Tono. Hanya sayang dia tidak menemui Tono ketika dewasa di bawah pohon sakura. Namun kalau memang ketemu, mungkinkah dia jadi goyah? Entahlah. Tono yang susah maju dan hidup dalam bayang-bayang akhirnya mendapatkan fakta pahit. Akari tak menunggunya lagi. Susah juga berhubungan dengan Tono yang belum selesai dengan masa lalunya. Namun begitulah hidup bukan? Waktu tidak akan menunggu, jadi kita tak boleh berdiam dan berharap tanpa melakukan apa-apa.

Sinematografi Sangat Indah, Akting Para Pemerannya Memukau

Untuk sinematografinya sangat indah, banyak shot yang mengingatkanku pada animenya. Adegan malam di bawah pohon sakura, juga Akari Tono kecil yang bermain gelembung sabun dan menatap pohon juga sangat cantik. Badai saljunya, pemandangan malam dan desa dengan area persawahan luas, cakep bener! Bahkan adegan Tono remaja dengan latar roketnya itu keren abis. Tone film ini juga hangat dan klasik, ala-ala kamera lama gitu ketika menunjukkan masa lalu dari kisah Tono. Berbagai properti tahun 1990 hingga ke 2000-an masih tetap dipertahankan seperti telepon boks dan handphone lipat. Lagu nostalgia “One more time, one more chance” bukan berada di bagian akhir seperti animenya. Justru muncul pada bagian Tono dewasa yang menepati janji di bawah pohon sakura. Maknanya kena banget! Aku juga sering putar berulang kali lagu penutup film ini yang Kenshi Yonezu bawakan berjudul 1991.

Lagu ikonik film 5cm per second live action
Lagu ikonik film (dok. republika)

Dari segi akting, aku suka semuanya! Aku suka akting Hokuto yang membuat karakter Tono lebih manusiawi dengan senyum tipis namun sering berwajah murung dan mata yang menyimpan kerinduan. Adegan nangisnya di depan sang rekan kerja juga bikin nyesek. Mitsuki juga seperti biasa tampil bagus, apalagi Aoi. Sudah lama aku tidak lihat akting Aoi sejak film Yellow Elephant. Akting para pemain mudanya juga bagus banget. Yang jadi Tono remajanya juga pernah main di Kakafukaka loh. Udah gede sekarang.

Ada Rekomen Film Nyesek Lainnya!

Kalau mau dibilang nyesek, aku lebih memilih versi film daripada animenya. Namun kalau sampai nangis kejer dan menusuk, cerita mendalam dan lebih realistis, aku merekomendasikan film remaja semacam Crazy Little Thing Called Love, You Are the Apple of My Eye atau Our Times. Fokus film ini lebih kepada bagaimana dua orang dewasa berusaha melepaskan bayang-bayang masa lalu, jadi memang lebih kompleks dan gelap.

Untuk kamu yang suka genre drama slowburn, realistis dan dewasa, kudu cobain film 5 Centimeters Per Second Live Action (2025) hanya di bioskop terdekatmu! Kalau lupa-lupa ingat animenya bisa nonton lagi, ada banyak di internet hehehe. Sampai ketemu di review berikutnya ya 🙂


Info Seputar Film 5 Centimeters Per Second Live Action (2025)

Judul : 5 Centimeters Per Second Live Action (2025);

Tgl Rilis : 30 Januari 2026 (Indonesia), 10 Oktober 2025 (Jepang);

PH : CoMix Wave Films, Fuji Television Network (Fuji TV), Toho;

Genre/Rate : Drama, Romance /13+;

Negara Asal : Jepang;

Waktu : 121 Menit;

Pemain : Matsumura Hokuto sebagai Tono Takaki, Takahata Mitsuki sebagai Shinohara Akari, Ueda Haruto sebagai Takaki muda, Shiroyama Noa sebagai Shinohara Akari muda, Aoki Yuzu sebagai Tono Takaki remaja, Mori Nana sebagai Sumida Kanae, Kiryuu Mai
sebagai Mizuno Risa, Miyazaki Aoi sebagai Koshimizu Midori, Yoshioka sebagai Hidetaka Ogawa Ryuichi, Okabe Takashi sebagai Kubota Kunihiko, Matayoshi Naoki sebagai Shibata Osamu, Horiuchi Keiko sebagai Tamura Shikiko, Sato Himi sebagai Ohashi Sumito

 

Rating versiku : 4/5

Trailer bisa lihat di sini:

Kalau kamu mau kasih rating berapa?

Klik bintang di bawah untuk berikan rating ya!

Rating rata-rata 4 / 5. Yang sudah merating : 1

Belum ada ratingnya! Jadilah yang pertama berikan bintang

Share :

admin

Leave a comment

Kembali ke atas
error: Nggak boleh dicopy. Share link saja ya