Aku, Papi dan Jejak Beliau Dalam Buku Harry Potter #Bersama Beradaptasi

Halo! Sejujurnya ini kisah yang sulit dan berat untuk kusampaikan. Kalau mau dikata, ini seperti membuka luka lama. Kalau dianalogikan sebagai buku, sudah usang dan lusuh, namun ketika dibuka selain tercium bau apak tapi mengundang memori indah bercampur pahit disana. Ketika melihat sayembara tentang beradaptasi bersama buku-buku GPU, segera terlintas di benak untuk membagikan pengalamanku akan jejak papi dalam buku Harry Potter sehingga berhasil keluar dari masa-masa suram dulu.

Kerusuhan Tahun 1998 Menjadi Titik Awal Masa Kelam

Kisah suramku sebenarnya berawal dari kerusuhan pada tahun 1998. Ketika itu, aku tinggal bersama papi, mami dan dua adikku di suatu kompleks perumahan Bekasi. Ketika itu aku masih menginjak SD kelas satu cawu pertama. Dulu sistemnya bukan semester, tapi caturwulan. Betapa aku sangat senang dengan ekstrakurikuler menari dan berteman dengan dua sahabatku di perumahan, sekolah mereka juga sama denganku.

Pada saat kerusuhan, mami yang masih keturunan Tionghoa begitu takut karena ada beberapa pemuda masuk ke kompleks memegang obor sambil berteriak-teriak. Yang kuingat dulu, kami menarik-narik koper sementara aku memegang tas besar. Adik perempuanku masih bayi beberapa bulan digendong oleh mami, adik lelakiku yang baru menginjak tiga tahun dipeluk papi dan aku digandeng mereka. Itu menjadi malam penuh kewaspadaan untuk kami yang sampai pergi bersembunyi di rumah tetangga.

Setelah kerusuhan besar itu, perekonomian kami makin sulit. Papi yang sebelumnya bekerja bagus sebagai manajer penjualan di sebuah perusahaan obat asal Amerika dan punya mobil dinas, mendapat surat pemutusan hubungan kerja. Lontang-lantung selama beberapa bulan, kami hanya makan seadanya. Nasi kaldu pakai kerupuk, bubur ikan juga nasi garam. Papi sangat tahu aku suka membaca, koran Kompas yang sering dibelinya juga suka kubuka walau aku tak benar-benar paham apa didalamnya. Beberapa bulan sebelum kerusuhan, selain Kompas, papi juga membelikan majalah Bobo untukku.

Tak Ada Lagi Bacaan dan Keputusan Untuk Pulang Kampung

Namun setelah kerusuhan, tidak ada lagi bacaan Bobo menghiasi rumah. Koran pun sangat jarang dibeli papi, kalaupun ada hanya untuk melihat lowongan kerja. Papi kadang meminjam ke tetangga. Sempat papi mendapatkan pekerjaan, walau sayang karena takut di-PHK lagi akhirnya beliau memutuskan berhenti dan merantau ke Jakarta.

Disitulah menjadi titik perpisahan keluarga kami. Mami yang asal Manado berencana untuk pulang kampung. Beliau sebenarnya ingin papi ikut dan membuka usaha bersama, entah kue, makanan, asinan seperti gohu pepaya atau menjahit baju. Tetapi papi punya pertimbangannya sendiri untuk mencari uang di Jakarta. Terlebih beliau tidak ingin jauh dari kampung halamannya di Jawa Tengah.

Aku dan dua adikku ikut mami pulang Manado. Sementara papi bertahan disana. Kami menempuh perjalanan beberapa hari dengan menaiki kapal laut dan ketika sampai di kampung halaman mami, semuanya menyambut dengan riang. Hanya saja suasana sekolah pun menjadi berbeda. Suasana rumah tanpa papi juga amat terasa. Seminggu bisa sekali atau dua kali papi menelepon menanyakan kabar dari wartel. Tidak bisa lama-lama karena penghematan.

Beradaptasi di Lingkungan Baru

Di sisi lain, sekolahku tidak ada ekskul tari dan itu membuatku kecewa. Tapi berpikir untuk mendapat hidup yang lebih baik, aku memutuskan untuk lebih giat belajar. Yang darinya biasa saja, mencoba untuk setidaknya masuk sepuluh atau lima belas besar di kelas. Kebiasaan bacaku juga tidak berubah. Sesekali papi mengirimkan uang yang bisa mami belikan majalah INA.

Di kelas empat, papi datang di Manado mungkin sekitar 3 bulanan. Hal paling berkesan ketika sekolahku kebanjiran, beliau sangat sigap menjemputku dan adik lelakiku. Kakinya sempat terluka kena paku karena menenteng sepatunya agar tidak basah.

Papi kembali lagi di Jakarta. Walau beliau sudah punya handphone, tetap saja penghematan pulsa dilakukan. Papi sesekali memberi kabar. Biasanya seminggu sekali, seterusnya bisa dua minggu sekali. Kalau kangen, aku yang meneleponnya sesekali pakai telepon rumah dan sempat dimarahi karena tagihan membludak. Atau pergi ke wartel walau tidak lama.

jejak buku harry potter

Hadiah Ulang Tahun yang Terlambat

Ketika masuk SMP, memasuki semester dua sekitar bulan Januari, papi mengirimkan hadiah dengan surat bertuliskan kalimat-kalimat panjang dan foto berlatar biru. Di masa kini, aku mengerti itu adalah foto yang dilampirkannya di CV untuk melamar kerja. Di surat itu, papi minta maaf karena telat memberikan hadiah ulangtahun untukku, begitu juga pada dua adikku karena baru bisa mengumpulkan uang. Ongkos kirim paketnya juga besar. Selain itu, papi meminta kami untuk bersabar agar bisa berkumpul lagi, karena beliau bekerja kerasa agar kami bisa hidup layak juga bersekolah lanjut. Kalau kami kangen, katanya, kami bisa melihat fotonya itu.

Papi memberiku hadiah yang sangat berkesan, selain kartu ucapan dan uang mainan bergambar Pokemon, ada buku Harry Potter edisi pertama hingga ketiga yang ketika kucek di Gramedia harganya cukup mahal. Entah pekerjaan apa yang papi lakukan di Jakarta, yang biasanya dikatakan beliau “tidak apa-apa”. Kalau menurut mami, papi sering melamar jadi sales. Pergi kesana-kemari dengan motor vespa di bawah terang panas matahari yang menyengat. Beliau tidak mau kami anak-anaknya memikirkan perjuangannya, dia hanya minta kami belajar yang giat dan dengar-dengaran pada mami dan keluarga di Manado.

Namun setelah itu, papi mulai menghilang. Nomor teleponnya perlahan sudah tidak bisa dihubungi. Sudah tidak aktif lagi. Dengan saran mami, aku mengirimkan surat pada eyang (orangtuanya papi) di Jawa, namun nihil karena mereka juga tidak tahu dimana keberadaan papi. Bukan hanya kabar, uang pun sudah tidak pernah dikirimkan lagi.

Beradaptasi Bersama Dalam Jejak yang Ditinggalkan: Buku Harry Potter

Mami butuh beberapa waktu untuk memulihkan diri dari keterpurukannya. Kakak dan adiknya mami ikut membantu biaya sekolah kami, juga kebutuhan sehari-hari di rumah. Tante tertuaku di rumah sering meminjam kaset CD rental film Mandarin atau Korea, juga majalah Bintang untuk menghibur mami. Aku perlahan-lahan membaca buku Harry Potter dari seri satu walau kadang aku harus bersembunyi menangis dalam kamar di lantai dua. Buku itu adalah hadiah dari papi, jadi walaupun isinya menyenangkan, tapi mampu membuat hatiku teriris akan ingatan senyum papi di foto.

Di bab pertama buku Harry Potter dan Batu Bertuah (cetakan ke-13, 2002), aku langsung terkesan dengan judul-nya “Anak Lelaki yang Bertahan Hidup”. Bagaimana Harry dengan cinta ibunya membuat dia tetap bertahan dan tidak mati di tangan Voldemort. Setelah beberapa tahun hidup menderita bersama bibi Petunia, Hagrid datang dan Harry sadar ternyata masih banyak yang peduli dan mencintainya. Hidup di Hogwarts, dia merasakan kasih sayang berlimpah yang tidak dia rasakan lagi sejak kematian orangtuanya.

Aku jadi memaknai kisah Harry, betapa tegarnya dia. Walau tokoh fiktif, namun terasa sangat dekat dengan kehidupanku. Aku yang semula malas belajar dan membaca lagi, malah tergugah dengan petualangan Harry dan kawan-kawan. Aku kagum akan semangat Harry yang walau yatim-piatu, namun berusaha mencari jati dirinya dan tidak terpuruk. Sama seperti Harry, aku masih punya mami dan keluarga di Manado. Aku masih bisa sekolah, walau penuh dengan penghematan. Sepatu dan tas tidak bisa ganti-ganti. Walau jariku tertekuk karena rasa sempitnya sepatu atau tas yang dekil dengan tali yang pernah copot lalu dijahit seadanya, buku cetak fotokopi, air minum dari tali rafia dan hal-hal menyedihkan lainnya, aku berusaha untuk tetap bersyukur.

Jejak Dalam Buku Harry Potter Kedua dan Ketiga

Lanjut ke buku kedua Harry Potter dan Kamar Rahasia (cetakan ke-15, 2002), aku tertegun sekali lagi pada bab pertama berjudul Ulang Tahun Paling Buruk. Betapa Harry merasa setelah mengenal Hogwarts, bibi dan pamannya begitu antipati pada dirinya. Segala yang berbau sihir berusaha disembunyikan mereka. Namun untunglah Harry punya teman seperti Ron Weasley dengan saudara-saudaranya yang banyak ide, sehingga Harry bisa dijemput dengan mobil terbang. Aku merasa ulangtahunku di masa SMP awal adalah hal buruk karena malah membuat papi ‘menghilang’. Namun setelah makin beranjak dewasa, setelah membaca beberapa kali buku Harry Potter ini, aku tersadar tidak ada hari yang buruk. Tuhan akan mengutus seseorang atau mengatur sesuatu kondisi agar kita tidak merasa sendirian, walau hari-hari yang dijalani amat berat.

Sementara di buku ketiga Harry Potter dan Tawanan Azkaban (cetakan ke-14, 2002), aku sangat menyukai bab dua puluh satu – Rahasia Hermione. Gadis pintar itu menyembunyikan rahasia alasan dia bisa menjalani beberapa kelas secara bersamaan dengan menggunakan kalung berbandul jam pasir. Ketika SD hingga SMA, aku merasa tidak percaya diri jika ada yang bertanya ‘dimana papimu’. Seakan aku ingin menyembunyikan keberadaannya yang juga entah dimana, membuatku malas menanggapi pertanyaan seperti itu dan menjadikannya seperti rahasia hidup. Dibanding bertanya akan hal pribadi seseorang, aku rasa akan lebih baik jika menilik prestasi dan kepribadiannya kan?

Filosofi Kamboja yang Berada di Rumah

Untuk buku Harry Potter selanjutnya, seri lima sampai tujuh, aku meminjamnya dari teman karena harganya tidak memungkinkan untuk dibeli. Beberapa tahun lalu setelah aku bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri, aku akhirnya bisa beli seri keempat. Untuk seri teater dimana latar beberapa tahun setelah perang sihir di buku ketujuh, aku sudah baca dan ulas review-nya disini. Hingga sekarang, buku-buku Harry Potter seakan menyihirku untuk pergi ke dunia lain disaat jengah dan bosan dalam menjalani kehidupan. Juga mampu membuatku beradaptasi tahun demi tahun menghadapi rasa rindu, karena di tiap halamannya kurasakan ada jejak papi di sana 🙂

Suatu saat, jika takdir berbicara, siapa tahu aku dan mami serta kedua adikku bisa bertemu papi entah dimana. Untuk pemanis foto, ada bunga kamboja di sana karena kebetulan memang banyak di rumah. Aku comot dan kuletakkan di samping buku, lalu terpikir mencarikan filosofinya. Dilansir dari threebouquets.com, dalam budaya Cina, bunga ini berhubungan dengan cinta. O iya, bunga ini juga tidak mudah layu. Mungkin itu yang membuat apo (oma) suka menanam bunga ini, berharap akan cinta yang terus tumbuh dan terjalin dalam keluarga walau banyak masalah menerpa.

Di kesempatan ini, aku mau mengutarakan selamat HUT #GPU47! Semoga terus berkembang dan menghasilkan buku-buku yang bermanfaat juga mencerdaskan bangsa, serta membantu kami semua beradaptasi menghadapi kehidupan yang makin keras ini. Kalau kamu, adakah jejak dalam buku seperti Harry Potter yang berkesan dalam hidupmu dan mampu membuatmu beradaptasi? 🙂

 
Share :

Leave a comment